
Saya kaget waktu tiba-tiba seorang teman bertanya, pertanyaannya singkat, tapi cukup membuat jantung saya berdegup lebih cepat.
“dit, loe happy gak sekarang?”
Dahi saya berkerut, mengira-ngira kemana arah pembicaraan ini nanti? Lalu saya kembalikan pertanyaannya dengan pertanyaan “EMANG KENAPA?” Mirip sebuah jargon rokok ternama, jurus ampuh saat kita kehilangan kata-kata, yang masih cukup manjur tenyata. Kemudian setelah dia menyebutkan alasan dan maksud pertanyaannya, baru saya bisa menjawab maunya.
“Apakah saya happy dengan tidak memiliki gaji tetap seperti anak agency?” Kira-kira begitu pertanyaan lengkapnya.
Secara menurut dia, gaji saya dulu lumayan dan sekarang gaji saya tidak menentu. Hehehe…perkiraan sok tau yang membuat saya tersenyum.
Jadi, Bahagiakah saya sekarang?
Ah pasti saya dianggap penipu kalo saya bilang saya bahagia. Menipu dirinya ataupun menipu diri sendiri
Walaupun saya sudah berusaha untuk jujur dan dengan lantang saya bilang SAYA BAHAGIA :)
Saya tau dia masih tak percaya karena ia memberondong saya dengan kata tapikan ini dan tapikan itu yang tak ada habisnya.
“ tapikan gaji loe gak tentu?”
“ tapikan gak tiap bulan loe dapet kerjaan”
“ tapikan bayarannya gak tiap bulan…”
Dan semua pertanyaannya membuat saya kembali bertanya…
apa siy kebahagian itu sebenanya?
Kalo indikator kebahagian itu adalah uang,
saya yakin saya TIDAK AKAN PERNAH bahagia,
Seberapapun banyaknya rupiah yang saya dapatkan.
Seberapapun kerasnya usaha saya mengejar materi yang saya dambakan,
Sebarapapun banyaknya sepatu, tas dan gadget terbaru penunjang penampilan
tidak akan pernah cukup membuat saya bahagia.
Buat saya, materi cuma menjanjikan dan menyajikan kebahagian semu.
Karena saat saya mendapat kepastian tiap bulan dari pendapatan saya, saya merasa terikat dan terpasung rutinitas.
merasa diperas seperti sapi sampai tidak bisa berdamai dengan hati, tidak memiliki nyali untuk sekedar menyenangkan diri.
Saya menjadi jagoan memaki diri sendiri, bekerja tanpa hati. Marah saat melihat siapa menjilat siapa, padahal sama sekali bukan urusan saya. Saya merasa tidak sayang dengan diri sendiri.
Saya memang mencintai pekerjaan saya,
tapi saya lebih mencitai diri saya…
Saya sadar semua pilihan pasti ada konsekwensinya…
Dan saat saya memilih melepaskan diri dan menjadi pekerja lepas, tentu saja saya melepaskan juga comfort zone saya
dengan segala fasilitas dan bonus ke 13 dan bonus lainnya ataupun janji plesir ke luar negeri.
Dan ketika saya memilih membebaskan diri dari belenggu jam kantor yang tidak menentu,
saya menyadari pendapatan juga jadi tidak menentu
Dan ketika saya memilih memiliki banyak waktu untuk diri sendiri tentu saya harus mengorbankan kemewahan bersosialisasi lebih dari sekedar ngupi2 (karena ternyata cukup menyita dan menguras isi dompet saya yang sekarang)
Semua ada plus dan minusnya, tinggal bagaimana kerelaan hati saya menerima kenyataan.
Toh saya sudah memilih dan saya harus mencintai pilihan saya.
Rejeki selalu ada, walau datangnya gak menentu. Karena datangnya dari Sang Pemurah dan Sang Penyayang.
Kalau saya pantas disayang oleh-Nya, pastilah kemurahan selalu datang.
Yakin aja, optimis aja..hehehe
Jadi Kalo saya tidak bahagia itu adalah kesalahan saya.
Daripada saya membiarkan orang-orang sedih karena saya tidak bahagia, lebih baik saya membuat mereka bahagia dalam kebahagian saya.
I am happy, really ...
Thanks for asking :)